Skip to main content

Inilah Arti Istilah Kata Pelakor

Mendengarnya saja mungkin sudah agak aneh, kata pelakor ini sering menjadi istilah yang diucapkan di kalangan masyarakat Indonesia yang bersosialita.  Jika melihat jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai 200 jutaan tentunya merupakan pangsa pasar yang besar bagi berbagai media sosial yang berkembang saat ini.

Sebagian besar pengguna internet terutama medsos di indonesia adalah perempuan. Ya tentu saja karena jumlah perempuan di Indonesia cenderung lebih banyak untuk saat ini. Sebagian dari mereka adalah ibu-ibu, sebagian lagi adalah emak-emak, beberapa mamah muda, ada lansia, balita dan sisanya ABG yang tentunya gila medsos.

Seperti sifat alami seorang wanita yang membawa perasaannya ke dunia maya, maka terciptalah berbagai istilah-istilah baru yang memperkaya bahasa Indonesia saat ini. Akhir tahun lalu muncul istilah yang lagi trend yaitu pelakor.

Pertama kali mendengarnya dari siaran TV dengan kasus cinta para selebriti yang semakin tak jelas. Akhirnya ada rasa kepo dan berusaha mencari di wikipedia namun belum ketemu. Usut punya usut ternyata inilah arti kata pelakor.

Pelakor adalah akronim (atau singkatan yang dibaca) yang berarti :
PELAKOR = PE-rebut LA-ki OR-ang, jadi sangat gampang arti pelakor adalah perebut laki orang. Dalam hal ini yang dimaksud adalah perempuan yang suka menggoda suami orang, secara perlahan merebutnya dari istrinya yang sah atau pacar yang sudah diresmikan statusnya.

Meskipun mungkin ada kasus hubungan antara laki-laki dengan laki-laki, namun istilah ini rasanya tak perlu berlaku untuk mereka. Istilah ini hanya untuk hubungan yang normal antara perempuan dan laki-laki.

Adapun perbedaan antara pelakor dan WIL (wanita idaman lain) yaitu dari segi keaktifan. Dalam istilah pelakor, yang secara aktif merebut adalah sang wanita. Sementara pada WIL, si lelaki lah yang mengidamkan wanita lain. Padahal dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, hal semacam ini disebut perselingkuhan.

Namun apapun itu, sebaiknya hal ini tidak dilakukan karena akan merugikan semua pihak yang terlibat. Jarang kita menemukan hubungan yang harmonis tanpa kesetiaan dan kepercayaan pada pasangan.
Salam dari Terketik : Terima kasih sudah berkunjung di website ini. Terketik berkomitmen untuk memberikan artikel terbaik dan selalu update dengan informasi terbaru. Kami akan sangat senang apabila Anda turut membantu mengembangkan website ini dengan cara like FANSPAGE FACEBOOK, subscribe kami di YOUTUBE atau share artikel ini untuk bisa menjangkau lebih banyak pembaca. Terima kasih
Himbauan Berkomentar: Silahkan berkomentar dengan sopan, apabila ada yang kurang jelas silahkan ditanyakan, apabila ingin berkomunikasi lebih jauh, promosi atau kerja sama silahkan email ke lionitalestari@gmail.com dan kami siap membantu.
Buka Komentar
Tutup Komentar