Skip to main content

Rabindranath Tagore, Inspirasi dari Sriniketan

Tulisannya mengingatkan saya dengan seorang yang menuturkan kejernihan, mengingatkan akan sastrawan terkenal dunia Kahlil Gibran. Serta ajaran nihilisme seorang Frederich Nietzsce, seorang filsuf Jerman,  yang mengutuki kehidupan lewat Zarathustra. Dan seorang Budha Gautama, mendirikan sebuah ajaran baru, Budha/ Bhodi kemudian menurunkan aliran Zen di China sampai seluruh Asia.

Tokoh sastrawan modern India paling populer yang sering disebut Gurudewa (Tuan Guru) dan dihormati sebagai seorang visioner. Ikon dari kebudayaan Bengali ini mempengaruhi para penulis dari berbagai bahasi India. Dia juga mampengaruhi banyak penulis Barat setelah dia manjadi orang non-Eropa pertama yang meraih Hadiah Nobel Sastra pada 1913.

Lahir dari sebuah keluarga kelas atas Bengali di Kalkuta pada 1861, Rabindranath Tagoremenentang lambaga sekolah: dia tidak pernah tamat pendidikan formal. Namun dia mamperlihatkan bakat sastra sejak awal dia mengarang peuisi pertamanya pada usia 8 tahun dan mempublikasikan puisi pertama kali katika berusia 14 tahun.

Dia menikah pada 1883, dan sejak 1890 menghabiskan masa panjang mengurus tanah leluhurnya di Bengali Timur (kini Banaladesh), yang membangkitkan kecintaanya pada alam. Pada 1901 dia pindak ke Santiniketan di Bengali Brat, tempat ayahnya menyepi untuk meditasi. Lingkungan yang benar-benar indah mengilhaminya untuk membuka sebuah sekolah dengan kelas terbuka di sana. Dia mengalami sejimlah musibah pribadi antara 1902-1907; istri, ayah, anask lelaki, dan anak perumpuannya meninggal.

Karya-karya Tagore menampilkan spiritualitas yang tegas sejak saat itu, sementara aktivisme politiknya sebagai nasionalis menurun. Pada 1912 Macmillan (London) mencetak buku pertama yang diterjemahkannya sendiri, Gitanjali, yang secara tidak terduga telah membuatnya mendapat hadiah Nobel Sastra, membuat Tagore meraih ketenaran internasional. Undangan mengajar berdatangan, dan dia bepergian ke mancanegara sepanjang sisa hidunya. Pada 1918 dia mendirikan universitas humanistic, Visva Bharati, di Santiniketan; pada 1922 dia membuat kawasan Sriniketan, sebuah rekonstruksi pedesaan.

Tagore menerbitkan hampir 60 jilid puisi (termasuk puisi anak), umumnya menampilakn alunan metafisik unik yang bardasarkan pada lanskap Bengali, seperti tampak pada Gitanjali. Dengan mempelopori pilihan kata sehari-hari dan menemukan bantuk sajak dan irama baru, dia merombak puisi Bengali.

Karakter kerinduan mistikal juga tampil dalam banyak wejangan dan risalah filsafatnya, dan dalam 3000 lagu-lagunya yang menggugah dan tajam (di mana dia menjadi composer dan penulis lirik), yang memberontak terhadap aturan musik klasik India. Karyanya “Jana-Gana-Mana Adhinayaka Jaha He” (“Hidup, Pemimpin Pikiran Rakyat”) dan “Amar Sonar Bangia” (Bengali Emasku”) dipilih sebagai lagu kebangsaan India dan Bangladesh.

Dalam 13 novelnya (seperti Gora, 1910) dan hampir 100 cerpen (sebuah genre yang dia perkenalkan dalam bahasa Bengali), Tagore menganalisis masalah sosial-politik secara realitis. Sisi yang lebih pragmatis juga ditemukan dalam esai, pidato, memoar, catatan perjalanan, dan surat-suratnya yang tak terhitung jumlahnya.

Tetapi seperti reformasi pendidikannya, sisi praktis tak terpisah dari sisi ideal: jauh sebelum Gandhi kembali ke India, Tagore telah merumuskan mengenai non-kooperasi anti kekerasan, dan dia mengimplementasikan konsepnya daloam pembangunan kawasan Sriniketan. Dia secara konsisten mengartikan arah Barat dan Timur dengan kredonya “manusia universal”, berdasarkan pada saling pengertian dan kerja sama.

Banyak belajar dari tagore tentang hal universal itu merupakan bagian utama dari kehidupan. Bahwa segalanya menunjukkan nilai untuk dapat hidup harmonis dengan seluruh komponen alam semesta. Dalam sebuah esainya, tagore menceritakan akan “Agama Penyair”.

Agama yang ia anut, bukan agama yang dogmatik seperti agama yang kita kenal sekarang. Sehingga kita dengan orang lain menjadi berjauhan, tidak ingin mengenal satu dengan yang lain. Sehingga “pelangi” yang kita idamkan di Indonesia nyata. Nilai- nilai ini yang kita pikir merupakan nama lain dari Pancasila, khususnya Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tidak ada perbedaan manusia itu, kita semua sama. Manusia. Demikian hakikatnya manusia itu saling menjaga satu dengan yang lain. Damai di dunia, tanpa eksploitasi oleh manusia pada manusia lainnya. 
Salam dari Terketik : Terima kasih sudah berkunjung di website ini. Terketik berkomitmen untuk memberikan artikel terbaik dan selalu update dengan informasi terbaru. Kami akan sangat senang apabila Anda turut membantu mengembangkan website ini dengan cara like FANSPAGE FACEBOOK, subscribe kami di YOUTUBE atau share artikel ini untuk bisa menjangkau lebih banyak pembaca. Terima kasih
Himbauan Berkomentar: Silahkan berkomentar dengan sopan, apabila ada yang kurang jelas silahkan ditanyakan, apabila ingin berkomunikasi lebih jauh, promosi atau kerja sama silahkan email ke lionitalestari@gmail.com dan kami siap membantu.
Buka Komentar
Tutup Komentar