Skip to main content

Membahas Kehidupan Raja, Ratu dan Selir di Zaman Dulu


Sekarang ini adalah jaman modern, zaman globalisasi dan revolusi pemerintahan yang berbentuk republik dan demokratis. Cuma sedikit negara di dunia ini yang masih memiliki sistem pemerintahan berupa kerajaan.

Kita mungkin tahu tentang kehidupan di zaman kerajaan karena membaca literaturnya melalui buku-buku dan ensiklopedia atau melalui film drama kolosal yang tayang di TV.

Saat menonton drama televisi atau film yang mengungkap kehidupan para raja zaman dulu dengan ratu dan selirnya. Mungkin banyak yang penasaran kok kayaknya enak jadi raja ya ?

Nah, artikel ini mencoba membahas kehidupan para raja zaman dulu berdasarkan sudut pandang dan pengalaman penulis. Berikut adalah pertanyaan yang sering muncul di otak manusia zaman now tentang kehidupan raja zaman old, yuk simak !

Mengapa kehidupan para raja terasa begitu menarik ?

Yang jelas yang saya tahu, kehidupan raja zaman old itu sungguh unik, tak terjangkau dan tak terbayangkan oleh rakyat biasa. Oleh karena itu menjadi menarik. Minimal setara dengan ftv top zaman sekarang.

Bagian manakah yang paling menarik ?

Yang menarik tentu saja drama dalam kehidupan mereka. Yang tentu saja timbul dari kehidupan sehari-hari yang tidak lain tidak bukan adalah masalah harta, tahta dan terutama wanita.

Bagaimana dengan Raja, Ratu dan Selirnya ?



Sepasang manusia dalam pernikahan saja sudah cukup rumit untuk dibahas. Apalagi pernikahan poligami dalam kaitannya dengan situasi politik yang penuh drama ini. Tentu saja karena pada zaman itu Raja seenak jidatnya bisa nikahin cewek-cewek yang dia mau.

Selain itu yang namanya benih raja pastinya sangat spesial pada zaman itu dan dinikahi raja merupakan sebuah kehormatan bagi rakyat wanita biasa pada zaman itu.

Emangnya Raja Harus Poligami ?

Raja mungkin sudah memilih cewek keturunan bangsawan sebagai Ratu nya, tapi Makin banyak wanita yang dinikahinya, makin besar peluang untuk mendapatkan keturunan yang suatu hari nanti bisa menjadi penerusnya yang dianggap layak.

Kekuasaan bisa lebih langgeng karena diturunkan ke generasi berikutnya. Anak, cucu dan seterusnya. Anak dari selirnya pastinya diangkat jadi pemimpin sebuah wilayah di bawah kekuasaanya, jadi semua pejabat masih keluarga. Ini mungkin salah satu bentuk politik dinasti.

Apa susahnya punya banyak istri di zaman itu ?

Kalo mau dibilang susah ya jelas susah ya. Punya satu istri aja rasanya udah ribet, gimana kalo istri ada banyak ? emang sanggup menafkahi ?

Saya juga penasaran sama selir-selir itu pasti jarang dijenguk sama raja, apalagi jika selirnya banyak. Paling cuma seminggu sekali atau sebulan atau bahkan setahun. Pastilah kesepian, rindu dan kedinginan.

Kecemburuan sosialkah namanya ?

Selain itu, mungkin si permaisuri juga ada rasa cemburu sama selir yang berasa lebih di mata raja karena lebih cantik dan lebih muda dan lebih bohai. Akibatnya si permaisuri jengkel dan ngebuli selir tadi, hadeh.

Tentunya mereka gak jambak-jambakan kayak abg jaman sekarang. Bila ada selir yang disayang raja akan membuat permaisuri atau selir lain cemburu dan mengupayakan segala cara untuk menyingkirkannya, bila perlu membunuh.

Gimana dengan keturunan raja ?

Menjadi permaisuri tentu terasa lebih enak karena lebih diutamakan dan anak permaisuri juga jadi pangeran yang bakal jadi raja atau kalo cewek jadi ratu. Tapi gimana nasib anak para selir ? gimana kalau mereka cemburu dan memberontak ? secara mereka juga anak raja yang pastinya pengen jadi raja.

Sudah banyak kasusnya, anak selir yang membelot, memberontak, mengkudeta dan bahkan bikin kerajaan sendiri yang lebih kuat.

Wah, kalau begitu susah juga ya jadi raja ?



Sepertinya begitu, walaupun ada juga raja yang setia sama satu istri. Tapi banyakan emang yang poligami. Berbanding lurus, makin besar jumlah anggota keluarganya, makin pelik pula kehidupannya.

Bila kehidupan berkeluarga orang biasa aja sudah bikin pusing, bagaimana dengan keluarga raja yang terkait erat dengan harta, tahta dan wanita. Jelas sangat memusingkan. Menjadi raja yang memiliki semuanya tak serta-merta bahagia. Ingat bahwa usia para raja umumnya pendek. Banyak yang tak mencapai usia 50 tahun.

BACA JUGA : SEJARAH INDONESIA DARI ZAMAN KERAJAAN

Sayang sekali yah, punya segalanya tapi cepet kelar ?

Memang sayang, cuma hidupnya sang raja, meskipun lebih pendek, tetep aja lebih berkesan daripada hidup rakyat jelata yang panjang umur pada zaman itu.

Rakyat jelata mungkin bisa panjang umur karena mereka hidupnya lurus-lurus aja, tak banyak drama dan tentu saja mereka jauh dari politik yang membuat mereka semakin selowww.

Gimana kalau raja mangkat ?

Ini dia, sisi mirisnya kehidupan raja. Kehidupan keluarga raja pun berakhir disini. Ingat bahwa akan selalu ada perebutan kekuasaan antara anggota keluarganya. Politik kekuasanan tak akan pernah berjalan adem ayem. Minimal terjadi perdebatan pendapat dan maksimalnya ya perang saudara.

Saat putra mahkota menjadi raja, saat itu pula kehidupan selir-selir raja dengan keturunannya bisa berada di ujung tanduk. Semisal eksekusi terhadap keturunan raja lainnya yang membangkang dan ingin merebut kursi raja suatu saat nanti. Antisipasi tentu sana perlu dilakukan.

Enakan jadi rakyat atau raja kalau begitu ?

Yah, ini sih selera aja ya. Udah tau hidupnya raja kayak gitu tapi pada zaman itu masih banyak aja orang yang pengen jadi raja. Mungkin karena bisa memerintah seenak jidat, banyak harta dan tentu saja mengawini banyak cewek tanpa kena peraturan.

Tak sedikit juga rakyat jelata yang dengan ambisinya pengen kudeta raja, bikin rusuh di sana sini padahal kehidupan masyarakat sudah adem ayem. Yah, namaya juga pengen jadi raja.

Kalau ketahuan sama raja pasti dicyduk lah sama pasukan kerajaan. Terjadilah perang melawan pemberontak. Rakyat ga salah apa bisa mati sia-sia. Ya kalau menang enak bisa jadi raja, kalau kalah ?  minimal dibui di bawah tanah atau yang paling parah ya potong kepala.

BACA JUGA : KISAH CINTA RAJA-RATU-SELIR

Dan saya bersyukur hidup di zaman ini menjadi rakyat biasa

Secara pribadi sih saya masih berfikir enakan jadi rakyat biasa, apalagi sekarang udah demokratis negara kita. Bebas ngapa-ngapain aja, pergi kemana aja meskipun masih ga boleh nikahin cewek banyak-banyak.

Yang saya sayangkan adalah masih aja ada orang yang membawa dendam masa lalu terkait tahta kerajaan. Mungkin dia masih ga terima karena belum bisa jadi raja, tapi sudahlah, move on lah dari masa lalu. Sekarang rebutan jadi Gubernur atau Presiden aja, sama kok kayak raja enaknya tapi umurnya lebih pendek cuma 5 tahun.

Salam dari Terketik : Terima kasih sudah berkunjung di website ini. Terketik berkomitmen untuk memberikan artikel terbaik dan selalu update dengan informasi terbaru. Kami akan sangat senang apabila Anda turut membantu mengembangkan website ini dengan cara like FANSPAGE FACEBOOK, subscribe kami di YOUTUBE atau share artikel ini untuk bisa menjangkau lebih banyak pembaca. Terima kasih
Himbauan Berkomentar: Silahkan berkomentar dengan sopan, apabila ada yang kurang jelas silahkan ditanyakan, apabila ingin berkomunikasi lebih jauh, promosi atau kerja sama silahkan email ke lionitalestari@gmail.com dan kami siap membantu.
Buka Komentar
Tutup Komentar