Skip to main content

Pengaruh Angin Terhadap Perilaku Manusia


Pengertian Angin

Sebagaimana diketahui, angin adalah udara yang bergerak. Pergerakan udara itu disebabkan oleh perbedaan tekanan udara di suatu tempat tertentu dengan tempat lain di dekatnya. Udara bergerak dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah.

Persepsi tentang Angin

Pada hakikatnya manusia tidak mempunyai alat penginderaan khusus untuk angin. Oleh karena itu, persepsi manusia tentang angin diperoleh melalui beberapa alat indera lain, yaitu :
 

1. Reseptor tekanan di kulit

Semakin keras angin, tekanan di permukaan kulit semakin kuat sehingga manusia mempersepsikan angin itu.
 

2. Reseptor suhu di kulit

Angin yang disertai udara dengan suhu dan kelembaban tertentu akan merangsang reseptor suhu yang ada di kulit sehingga manusia mempersepsikan angin itu.
 

3. Reseptor kinestesis

Gerakan anggota-anggota tubuh yang diperlukan untuk mempertahankan posisi tubuh dalam menempuh angin (berjalan, mengemudi sepeda motor) akan diterima oleh reseptor-reseptor kinestesis yang terdapat dalam otot-otot manusia sehingga angin itu terinderakan.
 

4. Reseptor penglihatan dan pendengaran

Kedua Reseptor ini memperkuat penginderaan angin dengan cara melihat bendera yang berkibar, gerakan asap, atau dengan mendengar suara gesekan dahan daun, dan sebagainya. (Sarwono, 1995:101)
 

Efek Angin pada Tingkah Laku




Belum banyak penelitian yang dilakukan untuk mempelajari bagaimana pengaruh angina terhadap tingkah laku. Akan tetapi, salah satu percobaan diantaranya dilakukan oleh Poulton dkk. pada tahun 1976 (Fisher et al,1984:136) sebagai berikut :

Sejumlah orang percobaan (wanita) dimasukkan ke dalam terowongan angin yang menghembuskan angin dengan kecepatan bervariasi antara 14,4 km sampai 32 km per jam. Suhu udara dibuat berkisar antara 18-210C dan kelembaban udara antara 70-85%.

Dari hasil penelitian itu didapatkan bahwa semakin besar angin, makin besar pula penginderaan angin (perceived windiness) dan makin besar perasaan ketidaknyamanan (discomfort) yang ditimbulkan. Selain itu, kemampuan untuk melaksanakan berbagai tugas pun terganggu.  Tugas-tugas yang terganggu itu adalah tugas yang membutuhkan konsentrasi, seperti berjalan dalam satu garis dan menuang air ke dalam gelas.

Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Dexter (1904) di Amerika Serikat telah membuktikan bahwa selama terjadi angin ribut, kecendrungan kenakalan siswa di kelas meningkat. Balinger dan Owen (1978) juga menemukan adanya hubungan antara angka mortalitas (kematian), kriminalitas berat, dan juga kejahatan remaja dengan kecepatan angin. (Fisher et al,1984:136)

Tentunya hasil-hasil penelitian di atas tidak konklusif dalam arti tidak membuktikan bahwa anginlah yang menyebabkan gejala-gejala tersebut. Bagaimanapun juga angin seringkali disertai dengan perubahan suhu udara dan cuaca sehingga gabungan dari semua faktor ini bisa menimbulkan gejala tingkah laku di atas.

Salam dari Terketik : Terima kasih sudah berkunjung di website ini. Terketik berkomitmen untuk memberikan artikel terbaik dan selalu update dengan informasi terbaru. Kami akan sangat senang apabila Anda turut membantu mengembangkan website ini dengan cara like FANSPAGE FACEBOOK, subscribe kami di YOUTUBE atau share artikel ini untuk bisa menjangkau lebih banyak pembaca. Terima kasih
Himbauan Berkomentar: Silahkan berkomentar dengan sopan, apabila ada yang kurang jelas silahkan ditanyakan, apabila ingin berkomunikasi lebih jauh, promosi atau kerja sama silahkan email ke lionitalestari@gmail.com dan kami siap membantu.
Buka Komentar
Tutup Komentar